TAMAN BUNGA DITENGAH RAHASIA

Ini cerpen yang ngga lolos.. #Flashback 😛

Thanks for Ayu Apriani, teman setia dalam pembuatan cerpen ini d^^b

—————————————————————————————————

Senja itu menampakkan senyumnya, mengembang indah menyimpan sejuta cerita. Menyampaikan salam dan cinta untuk seorang gadis yang wajahnya sangat merona, selalu menunduk, dan anggun dengan jilbabnya yang lebar. Gadis itu bernama Puput. Ia seorang gadis yang selalu ceria, wajahnya tak selalu bermuram durja. Namun, sore ini wajahnya terlihat penat akan dunia.

“Put malas mba berbuat baik!”kata Puput kepada kakaknya, Fahriah namanya. Fahriah terkejut. “Lha kenapa put kok bisa gitu? Ga bisaanya kamu begini put, kenapa? Cerita sama mba!”

“Put cape aja mba dengan hidup ini! Hmm…Put, mau ke kamar aja lah mba, mau nenangin pikiran dulu!”

“Hm.. ya udah put kalau begitu, tenangin pikiran kamu, perbanyak istighfar put!”

“….” Puput hanya terdiam.

Di kamar ungunya yang sejuk dipandang, ia terisak! Relung hatinya tengah diguyur hujan sekarang. Ia tak bisa menceritakan kepada kakaknya, apa yang dialaminya pagi tadi di sekolah. Walau sudah sangat sesak dadanya menahan rasa kesal atas perilaku teman-teman sekelasnya, namun ia tak ingin menceritakan semuanya kepada kakaknya, karena Puput berfikir bahwa diusianya yang kini menginjak 17 tahun, ia sudah dewasa dan harus menyelesaikan masalahnya sendiri, termasuk masalah yang dialaminya sekarang.

            Tanpa disadari olehnya, ia melamun. Dan tiba-tiba, memori otaknya membuka kembali kejadian pagi tadi di sekolah yang membuat darahnya sampai keubun-ubun.

            “Aku itu berangkat pagi-pagi dari rumah, tugas kelompok belum selesai dikerjakan. Pemikirannya semua aku yang melakukan, sampai di sekolah, bukannya mereka bertanya ‘Put, gimana tugasnya sudah belum? Ada yang harus kami bantu?’ Lha ini tidak sama sekali. Astaghfirullah… kesabaranku hendak diuji ternyata sekarang. Sabar put sabar!” Puput terisak.

            “Astagfirullah… kenapa Puput yang sekarang tidak seperti Puput yang dulu, Puput yang sabar, Puput yang bisa mengevaluasi dari setiap kejadian yang dialami! Kenapa Puput menjadi seperti ini? Kenapa ya Allah?” ujar Puput, tangisannya semakin menjadi-jadi.

Disepertiga malamnya ia terbangun. Pengaduannya kepada Illahi Rabbi penuh isak tangis, penuh tanya, penuh penyesalan akan perubahan sikapnya. Kemudian, ia terdiam sejenak. Dipikirannya terlintas keinginan untuk bersikap lebih baik esok pagi dan berharap kesabarannya setia menemaninya menjalani aktifitas yang diperkirakan akan memakan beberapa bagian-bagian kesabarannya dan juga akan menggoyahkan kesetiaan penjagaan lisannya kembali, karena kemarin ia sempat marah kepada temannya.

Ustadzah Ainun… Puput kemudian teringat kepada nasihat dari Ustadzah Ainun yang merupakan guru ngajinya tentang penjagaan lisan dan pentingnya menjaga lisan, ada salah satu hadits yang masih teringat secara lengkap bunyinya :

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika anak Adam memasuki pagi hari sesungguhnya semua anggota badannya berkata merendah kepada lisan, “Takwalah kepada Allah di dalam menjaga hak-hak kami, sesungguhnya kami ini tergantung kepadamu. Jika engkau istiqamah, maka kami juga istiqamah, jika engkau menyimpang (dari jalan petunjuk), kami juga menyimpang. (H.R. Tirmidzi, no. 2407; dihasankan oleh Syaikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 3/17, no. 1521) (Jami’ul ‘Uluum wal Hikam, 1/511-512)

Hadits itu kemudian ia pahami dalam-dalam maknanya, dan ia catat dalam buku hariannya sebagai pengingat agar nanti ia dapat menjaga lisannya. Kini, Puput semakin kokoh keinginannya untuk memperbaiki sikapnya tidak seperti kemarin.

Paginya di sekolah…!!

“Put, kamu yang bikin karya ilmiahnya ya, mau kan? Kamu kan jago banget put kalau bikin karya ilmiah!”pinta Anggi, salah satu teman sekelasnya yang juga satu kelompok dengan Puput dalam kelompok penelitian kehidupan gepeng.

“Tapi kalian juga mau bantu kan yah? Biar kaliannya juga bisa bikin karya ilmiah. Lumayankan, bulan depan kita mau study tour pasti bakalan bikin karya ilmiah. Nah biar kalian nanti bisa bikinnya. Ok! Gimana?”jawab Puput dengan penuh senyum sabar.

“Ah Put, kamu ajalah.. Kami malas put, he….he…”jawab Rina, yang juga merupakan teman sekelas Puput dan satu kelompok dengannya.

“Hm… Bener nih? Kalian ga akan nyesel?”

“Ga kok put…”jawab Anggi dan Rina mantap.

Puput pun akhirnya setuju, kalau dia saja yang membuat karya ilmiahnya. Walaupun sebenarnya, Puput sangat ingin sekali kedua temannya itu membantunya. Tapi harapan berbuah arang, ia lagi dan lagi harus menelan ludah dalam-dalam karena kenyataan mengharuskan ia untuk mengerjakan tugas itu sendiri.

Ia berusaha ikhlas menjalankannya, tapi ternyata Rini dan Anggi tidak mau terjun ke lapangan untuk melakukan penelitian bersama Puput. Dengan alasan mereka ga mau bergaul atau berkomunikasi dengan para gepeng yang mereka anggap sebagai kelompok orang yang hidupnya tidak sehat, lingkungannya penuh dengan berbagai penyakit dan juga pergaulan mereka yang tidak baik. Puput beberapa kali menghela nafasnya menahan kesal. Ia sebenarnya sudah lelah, ingin sekali ia meninggalkan dunia yang penuh dengan lampu-lampu penindasan.

“Astaghfirulllah, sabar put sabar! Melakukan sendiri kamu juga pasti bisa. Yakin put yakin, toh nanti di kuburan juga kamu sendiri jadi sekarang harus terbisaa sendiri!” lirihnya, menguatkan langkah.

Puput kemudian melakukan penelitiannya, ia memulai dengan pendekatan lalu dilanjutkan dengan memberikan beberapa penelitian. Alhamdulillah, senyum manis terukir dalam bibirnya yang mungil. Ia mendapatkan sejuta pelajaran dari penelitiannya tersebut, tentang kerasnya hidup yang dicoba diruntuhkan oleh para gepeng walaupun selalu terjatuh karena terjalnya dinding yang selalu dipuja-puja oleh masyarakat.

“Habis jalan sama siapa put? Kok senyum-senyum sendiri sih! Hayoo habis jalan sama siapa, hayooo… ecie Puput, he….he…!” rayu mba Fahriah.

“Aduh… Mba ini apaan sih, he…he… Puput kan habis melakukan penelitian kepada para gepeng, he..he…”jawab Puput penuh senyum semangat.

“Ah.. masa sih put! Mba ga percaya. Hm… apa jangan-jangan?”

“Jangan-jangan apa sih mba ku yang ayu?”

“Jangan-jangan ada gepeng yang membuat kamu terpincut hatinya? Hehehehe..”

“Walah… Mba ini ada-ada aja sih haduh! Ssst mba, jangan suudzon ga baik!”

“Hehehehe, maaf put maaf! Terus kenapa put, kamu jadi senyum-senyum gini?”

“Gini mba, tadi Puput melakukan penelitian pada para gepeng. Walah, ternyata banyak pelajaran yang dapat Puput ambil mba. Mereka kuat dalam menghadapi hidup, bekerja keras demi mendapat uang untuk sesuap nasi, mereka saling bergotong royong. Hm.. walau sebenarnya ya mba, kita aja yang hidup mapan jarang tuh saling membantu dan bergotong royong, tapi mereka yang hidup pas-pasan mampu begitu, Subhanallah. Mereka tegar mba, ketika para polisi mengejar mereka karena hidup terlunta-lunta. Hm.. tapi yang salah siapa ya mba? Wallahu’alam, seharusnya kita semua instrospeksi diri kenapa semua ini terjadi di negeri yang kaya ini.” Puput menceritakan panjang lebar.

Fahriah tersenyum dan sangat senang mendengar adiknya dapat berfikir seperti itu, dan melakukan hal terbesar dalam hidupnya, Fahriah berharap semoga adiknya itu dapat memaknai hidup ini sebagai hidup yang indah, karena Allah telah menurunkan beberapa hikmahnya untuk umat manusia.

Lagi-lagi di sekolah, muka merah Puput muncul kembali karena ulah temannya juga.

Puput merupakan tipe perempuan yang pendiam, dan ia tidak suka jika ada orang yang bercanda berlebihan, bercanda dengan kata-kata dusta dan lama kelamaan bercanda dengan kata-kata yang menyakiti hati. Namun pada saat itu, teman-temannya sedang bercanda dan objek bercandanya adalah Puput sendiri, ia kembali melakukan banyak istigfar karena ternyata bercanda teman-temannya itu telah menyakiti hati Puput secara tidak  langsung.

Puput berusaha menyibukkan diri dengan membuat karya ilmiahnya, ini ia lakukan agar emosinya tidak muncul dan diaplikasikan dengan sikap atau prilaku yang dapat memperkeruh suasana. Namun, ketika ia sedang membuat karya ilmiah, Anggi dan Rina acuh sekali padahal mereka sedang santai dan bercanda dengan teman-teman yang lainnya. Puput sangat kesal melihat sikap Anggi dan Rina yang sangat acuh. Tapi rasa kesalnya itu ia abaikan, ia tak ingin termakan oleh amarahnya. Ia mencoba diam dan menyelesaikan karya ilmiahnya dengan tepat waktu dan berharap karya ilmiahnya dapat memberikan kontribusi yang sangat tinggi untuk warga sekolah.

            Ketika ia meminta bantuan kepada Anggi dan Rina untuk mengeprint karya ilmiahnya… Lagi-lagi ia mengerutkan dahinya dan menghela nafas sangat panjang, karena penolakan mereka ketika atas permintaan Puput itu. Beberapa alasan oleh Anggi dan Rina tiupkan, tapi logika Puput mencerna logis atau tidaknya alasan mereka. Puncak kekesalan Puput adalah hari ini. Pertama, karena candaan teman-temannya yang menyakiti hatinya. Kedua, karena sikap Anggi dan Rina sangat acuh terhadap pembuatan karya ilmiah. Ketiga, karena penolakan permintaan Puput kepada Anggi dan Rina. Dan keempat, ternyata karena Puput diberikan beberapa pertanyaan tentang pemakaian jilbab lebarnya dan juga tentang kegiatan apa yang akan Puput lakukan pada hari valentine nanti, serta datangnya beberapa hujatan yang diberikan kepadanya atas penolakannya terhadap hari valentine.

            Puput meluapkan kekesalannya dengan tangis, miris ia mendapatkan perlakuan seperti itu dari teman-temannya, terlebih dari beberapa hujatan tersebut. Akhirnya tangisnya itu didengar oleh kakaknya, mba Fahriah. Atas bujukan mba Fahriah, Puput akhirnya menceritakan semua yang terjadi.

“Puput itu kesal mba, teman-teman sekelas bercanda keterlaluan tadi, Puput ga suka akan hal itu mba. Terus, teman-teman yang sekelompok dengan Puput selalu saja mengandalkan Puput buat menyelesaikan semua tugas kelompok, dikira Puput itu siapa mba? Puput juga bisa lelah mba, kalau begini terus, Puput ingin menjadi anak yang malas aja kayak mereka!”

“Hus! Kamu ini bicara lha wong dipikir-pikir dulu toh! Sabar sayang sabar! Sedongkol-dongkolnya hatimu kepada mereka, sebenci-bencinya kamu terhadap mereka, jangan sekali-kali ada dibenakmu untuk menjadi anak malas kayak mereka! Kalau kamu seperti itu berarti kamu sama jahatnya kayak mereka. Ya kalo mereka terus aja berbuat seperti itu, kamu harus tetap tegar, bangkit sayang! Ucapkan Allahuakbar ketika kamu merasa lelah akan beban yang sungguh sangat berat kamu pikul! Yakin, Allah always beside you! Allah tahu semua pengorbananmu, dan ia akan membalasnya, yakinilah itu adikku yang manis!” Fahriah meyakinkan Puput dengan penuh semangat.

“Maafkan Puput mba, pikiran Puput kacau. Kenapa Puput hidup ditengah-tengah lingkungan seperti itu. Terus mba, tadi teman-teman mempertanyakan kenapa jilbab Puput sangat lebar, mereka mengatakan kenapa Puput ga nikah sama ustadz atau mesantren aja! Astaghfirullah. Lalu ada yang menghujat tentang tidak setujunya Puput dengan adanya perayaan hari valentine. Miris mba, kemana akhlak dan moral orang-orang islam kalau mereka seprti ini?”

“Adikku, memakai jilbab merupakan kewajiban kita sebagai muslimah. Memakai jilbab itu, harus menutupi dada dan jangan memperlihatkan lekuk tubuh juga jangan tipis. Tidak seperti jilbab yang digunakan para muslimah sekarang, yang mba dan teman-teman mba suka menyebutnya dengan jilbab gaul! Perayaan hari valentine memang tidak boleh adikku, karena itu merupakan perayaan kaum kafir, kalau kita mengikutinya berarti kita masuk ke dalam golongan mereka! Sing sabar aja, jalan dakwah sangat penuh dengan kerikil! Besok ada kajian di Masjid Al-Ikhlas, disana juga banyak teman-teman mba, sesama akhwat yang akan datang. Kalau kamu mau kamu ikut aja yah!”

“Ok insya Allah mba!”

Di Masjid Al-Ikhlas, Puput dan mba Fahriah bersama akhwat-akhwat yang lain mengikuti kajian yang disampaikan oleh Ustadz Abu Khubaib. Dari kajian tersebut Puput memperoleh beberapa pengetahuan baru tentang islam, muslimah dan kesabaran. Alangkah menyesalnya Puput karena kemarin ia sempat mengeluh besar, dan ternyata pikirannya tentang kesabaran itu ada batasnya itu salah besar, karena sesungguhnya kesabaran itu tidak ada batasnya.

Puput pun mengobrol-ngobrol dengan akhwat-akhwat lain yang merupakan teman mba Fahriah. Senyum manis tersungging indah dibibirnya. Ada kagum dalam benak Puput mengenai kehidupan para akhwat tersebut, karena mereka hidup dalam ruang yang indah. Karena ukhuwah yang terjalin erat, karena iman mereka sangat kuat dan niat istiqomah mereka pun sangat besar membuat mereka hidup penuh kedamaian dan cahaya hikmah yang sangat besar. Hidup ini bak berada di tengah taman bunga yang indah.

“Mba, teman-teman mba itu hidupnya nyaman sekali ya mba?”

“Iya Put, karena iman dan agama mereka nomor satukan. Walau harta hanya berkecukupan”

“…..”Puput terdiam merenung.

“Put, sebenarnya hidup ini indah loh Put!”

“…”Puput terkejut.

“Indah dengan adanya keluhuran iman, niat keistiqomahan yang besar dan juga memprioritaskan agama menjadi nomor 1, bukan dunia.

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kehidupan yang baik dan Kami akan beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl : 97)

Nah kalau pertanyaan yang ada dibenak kamu sekarang ini, ‘kenapa kalau indah harus banyak masalah?’ jawabannya ‘karena hidup ini butuh bumbu penyedap, masalah sebagai bumbu tersebut. Allah menyimpan berjuta-juta rahasia dari semua kejadian yang telah kita alami. Yakinlah hidup ini sangat indah, jika kita berjalan di jalan-Nya.” Senyum Fahriah mengembang.

Puput termenung, ia menyadari sikapnya tidak mencerminkan sebagai muslimah yang tangguh, walaupun jilbab lebar ia gunakan. Tapi ternyata masih banyak yang harus ia perbaiki, dan saat ini ia harus meng’iya’kan bahwa hidup ini memang sangat indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s