Indahnya Islam #1

Pernah mendengar kisah orang masuk surga hanya karena menyingkirkan duri (gangguan) di jalan? Maa syaa Allaah, agama Islam sangatlah indah.

Berikut kisahnya, disalin dari kisahmuslim.com tentang ‘masuk surga karena membuang duri’.

Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan-jalan di sebuah jalan. Ia menjumpai rerantingan yang berduri yang menghambat jalan tersebut, kemudian ia menyingkirkannya. Lalu ia bersyukur kepada Allaah subhanahu wa ta’ala, maka Allaah mengampuni dosa-dosanya.

Dalam sebagian riwayat dari Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah pula, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada seseorang laki-laki yang melewati ranting berduri berada di tengah jalan. Ia mengatakan, ‘Demi Allaah, aku akan menyingkirkan duri ini dari kaum muslimin sehingga mereka tidak akan terganggu dengannya.’ Maka Allaah pun memasukkannya ke dalam surga.”

Dalam riwayat lain, juga dari sahabat Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sungguh, aku telah melihat seorang laki-laki yang tengah menikmati kenikmatan di surga disebabkan ia memotong duri yang berada di tengah jalan, yang duri itu mengganggu kaum muslimin.”

Kisah sahih di atas diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Kitab “Al-Adzan“, Bab “Fadhlu Tahjir ila Zhuhri“, no. 652; dan Kitab “Al-Mazhalim“, Bab “Man Akhadzal Ghuzna wama Yu’dzinnas fith Thariq“, no. 2472; juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab “Al-Bir wash-Shilah wal Adab“, no. 1914; dan Kitab “Al-Imarah“, no. 1914.

Menyingkirkan gangguan di jalan bagian dari keimanan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang atau lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi ialah perkataan “Laa ilaaha illallaah”, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan duri (rintangan) dari jalan; dan malu adalah salah satu cabang iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35)

Menyingkirkan gangguan di jalan salah satu bagian dari kebaikan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Setiap persendian  manusia wajib bershadaqah pada setiap hari di mana matahari terbit pada hari itu: Engkau mendamaikan dua orang yang sedang berselisih adalah shadaqah, engkau membantu seseorang pada hewan tunggangannya lalu engkau menaikkannya ke atasnya atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas hewan tunggangannya adalah shadaqah, ucapan yang baik adalah shadaqah, setiap langkah yang engkau langkahkan menuju shalat adalah shadaqah, dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalan pun shadaqah.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu…

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari jalan Abu Barzah Al-Aslami, beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat bermanfaat bagiku.” Beliau menjawab, “Singkirkanlah gangguan dari jalan-jalan kaum muslimin.” (HR. Muslim, 13:49; Ibnu Majah, 11:78)

Tapi….

Tapi, ingatlah berbuat kebaikan ataupun amalan tidak hanya sekedar berbuat baik atau beramal setelah itu kita anggap selesai. Ada dua hal yang perlu kita perhatikan ketika kita hendak beramal atau berbuat suatu kebaikan, yaitu :

1) Ikhlas. Perkara pertama ini merupakan hal yang sangat sulit sekali untuk diraih. Kenapa? Kita tahu sendiri bahwa sifat dasar manusia adalah ingin mendapat perhatian. Bisa dalam bentuk diperhatikan orang lain ketika berbuat sesuatu sekecil apapun itu, didengar oleh orang lain tentang kebaikan yang telah dilakukan, atau lebih besar lagi ingin mendapat pujian dari orang lain.

Sufyan ats-Tsauri (wafat th. 161 H) rahimahullaah mengatakan, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat untuk aku obati daripada niatku.” (Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim hal. 112. via : almanhaj.or.id)

Allaah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali Neraka.” (QS. Huud: 15-16)

Kamu tahu keadaan amalan-amalan orang-orang kafir di akhirat yang di dunia ini kita dibuatnya terpesona? Beginilah keadaan amal-amal mereka, “Orang-orang yang kafir kepada Rabb-nya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Ibrahim: 18)

Pentingnya niat dengan selalu ikhlas karena Allaah Ta’ala.

2) Ittiba’ (dengan tata cara ibadah yang mengikuti teladan dan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Orang-orang bertanya: “Wahai Abu ‘Ali (Fudhail bin ‘Iyadh), apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu?”.

Dia menjawab, “Sesungguhnya jika suatu amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Demikian pula apabila dilakukan dengan benar namun tidak ikhlas maka ini pun tidak akan diterima. Suatu amal hanya akan diterima apabila amal tersebut dilakukan dengan ikhlas dan benar. Amal yang ikhlas ialah amal yang ikhlas karena Allaah, sedangkan amal yang benar ialah yang berdasarkan As-Sunnah (mengikuti suri tauladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullan, Ikhlas, Pustaka Ibnu Umar, hlm. 7-8)

Mari sebelum beramal cek dulu niat kita, apakah ada penyakit di sana ataukah tidak. Kemudian, luruskan…beramal hanya karena Allaah, hanya mengharap ridha-Nya dan bertemu dengan-Nya nanti di surga. Jangan lupa juga, apakah amalan kita itu sudah sesuai tuntunan Rasulullah? Setelah beramal pun, jangan lupa untuk tetap menjaga niat karena biasanya niat akan berubah-ubah. Penyakit-penyakit (riya, sum’ah) akan muncul bisa diawal sebelum beramal atau setelah beramal.

~

Indahnya agama Islam, semua kebaikan dari yang terkecil pun akan mendapatkan balasan kebaikan pula. Iya kan, hanya karena duri… Ya, menyingkirkan duri di jalan. Maa syaa Allaah.

Tidak diragukan lagi, keburukan pun akan mendapatkan balasannya (dalil? Lihat di : Akan ada balasannya). Mari bersemangat berbuat kebaikan… Luruskan niat, dan cek apakah sudah mengikuti Rasulullah?

images

Referensi : 

a. Hisab pada hari pembalasan

b. Jangan sampai susah payah dalam beramal tetapi sia-sia

c. Agar amalan kita diterima di sisi Allaah

d. Masuk surga karena membuang duri

e. Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullan, Ikhlas, Pustaka Ibnu Umar.

f. Hadits arba’in, hadits ke-26.

Yogyakarta, 02 Januari 2015

~Ghaaziyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s