Untuk Ayah

Bismillaahirrahmaanirrahiim. 

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuhu.

Kutulis surat ini untukmu, ayah.

Maafkan aku yang sempat terlupa menyapamu.

Maafkan aku yang sering menulis hanya tentang ibu.

Tapi ayah, aku pun tidak tau apakah surat ini akan membuatmu menangis karena tersakiti atau membuatmu menangis terharu. 

Semoga Allaah memaafkanku jika ini salah, dan semoga engkau pun memaafkan anakmu ini.

tumblr_nhy3uuVcxj1rmv620o1_500

Ayah, siang itu secara tidak sengaja aku mendengarkan seorang ustadz memberikan nasihat. Tentangmu, ayah. Seketika aku menjadi teringat engkau. Pengorbananmu, kasih sayangmu, ketegasanmu, wibawamu. Baarakallaahu fiik.

Siang itu juga aku menyadari kesalahanku, aku mengakui kesalahanku yang aku lakukan dulu dan mungkin engkau tidak tau. Saat itu ustadz bercerita tentang seorang anak yang berbohong pasti dikarenakan beberapa sebab, diantaranya karena orang tua yang mengajarkan secara tidak sengaja, ketakutan yang sangat karena didikan orang tua yang keras, dan tidak diberi kesempatan bermain.

Ayah, aku tau engkau tidak pernah mencontohkan berbohong. Secara tidak sengaja pun seingatku tidak pernah. Aku kenal ayah yang begitu tegas, tapi pendiam. Berbicara hanya ketika memang diperlukan.

Tapi, aku teringat ketika aku berbohong kepadamu karena aku telah berbuat kesalahan. Membuat piring pecah, menjatuhkan minyak wangimu. Aku berbohong dan mengatakan kalau itu terjatuh begitu saja. Saat itu aku masih berumur di bawah 10 tahun. Maafkan aku, ayah. Tapi aku lakukan itu karena aku takut engkau memarahiku. Aku tau ayah pasti akan marah jika aku berkata jujur, aku takut ayah. Jadi aku berbohong kepadamu.

Aku juga ingat ketika aku meminta ijin untuk belajar kelompok padahal aku bermain bersama teman-temanku. Main boneka, main ke hutan mencari mangga. Maafkan aku ayah, tapi kala itu aku masih anak-anak. Aku ingin seperti anak-anak lain yang bebas bermain, tidak dibatasi waktu hanya satu jam atau dua jam saja.

Ayah, aku meminta maaf kepadamu. Itu kelakuanku saat aku belum mengenalmu. Ya, aku dulu hanya mengenal ayah yang galak, mengekang anaknya. Tapi kini aku mengerti kenapa ayah melakukan ini.

Aku mengerti kenapa sampai saat ini ayah masih melarangku bermain bebas, harus tepat waktu, tegas ketika menerima teman-temanku datang, tidak mengijinkan aku sama sekali main dengan laki-laki, melarangku keluar malam, menyuruhku menutup aurat. Ayah lakukan itu karena pasti menginginkan kebaikan untukku, ‘kan? Aku hanya menebaknya saja karena ayah tidak pernah mengatakan alasannya.

Ayah, aku membaca kalau ibu, aku dan si bungsu ternyata merupakan ujian bagimu,

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS At Taghaabun: 14). Ujian bagi ayah ketika ayah harus berbuat tegas kepada kami atas kekeliruan kami, kesalahan kami tapi bisa jadi ayah sungkan melakukannya karena takut menyakiti kami. Tapi aku menemukan ayah yang berbeda.. Ayah menunjukkan kasih sayang ayah dengan cara yang aku lihat itu tidak menyalahi aturan agama.

Aku juga mengerti kenapa ayah begitu keras dulu. Galak, aku sebutnya seperti itu. Di pikiranku waktu itu, ayah menganggapku sebagai murid ayah di sekolah. Tapi kini aku mengerti. Ayah begitu karena ayah dulu tidak mengenal kasih sayang, tidak mengenal sosok seorang ayah itu sendiri seperti apa.

Orang tua ayah meninggal ketika ayah masih kecil, belum mengenal apa-apa. Lalu ayah diasuh oleh paman ayah. Ayah sudah mandiri sejak kecil, dididik secara keras, tidak mengenal kasih sayang yang benar-benar dari seorang ayah ataupun ibu. Aku sudah tau semua ini. Aku pun jadi tau kenapa ayah begitu kepadaku.

Aku pun jadi tau kenapa ayah pendiam, tidak humoris, tidak menunjukkan kasih sayang, mengungkapkannya pun tidak pernah, dan ayah terkenal tegas.

Tapi aku juga sekarang sudah menemukan sifat ayah yang baru aku sadari. Ayah yang sangat khawatir terhadap kehormatan ibu, aku -anak perempuan ayah ini- dan juga si bungsu yang ayah takutkan dia akan menjadi manja padahal dia laki-laki.

Ayah, lihatlah… Ternyata Allaah Ta’ala memerintahkan kepada ayah untuk tidak menjadi dayyuts..

“Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dilihat oleh Allah (dengan pandangan kasih sayang) pada hari kiamat nanti, yaitu: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts…” (HR. An-Nasa-i, no. 2562, Ahmad, 2/134 dan lain-lain.)

Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau bapak yang membiarkan terjadinya perbuatan buruk dalam keluarganya (Lihat Fathul Baari, 10/406. Makna ini disebutkan dalam riwayat lain dari hadits di atas dalam Musnad Imam Ahmad, 2/69. Akan tetapi sanadnya lemah karena adanya seorang perawi yang majhul/tidak dikenal. Lihat Silsilatul Ahaaditsish Shahihah, 2/284).

Alhamdulillah, in syaa Allaah ayah tidak termasuk kategori itu.

Aku juga baru menyadari ternyata ayah dari dulu rela berkorban banyak hal, tak kenal lelah. Ayah yang tidak malu mengerjakan pekerjaan ibu kala ibu sedang sakit, menjemput ibu walau ayah lelah. Setia mengantarku sekolah, kemudian menjemputku lagi padahal saat itu ayah kelelahan karena seharian mengajar atau saat itu sedang hujan deras.

tumblr_mou1zhhwWR1r9bipco1_400

Tapi, aku juga ingin bercerita tentang si bungsu. Ayah, aku tidak ingin kalau ayah mendidik si bungsu seperti mendidikku. Bukan, maksudku aku ingin ayah jujur ketika mendidiknya. Supaya dia mengerti kenapa ayah melakukan ini, melakukan itu.

Ayah jangan membuatnya takut untuk berkata jujur ketika dia salah, karena aku takut dia tidak akan mengerti kenapa ayah terlihat ‘galak’ di matanya. Aku takut dia membenci ayah. Aku juga takut ayah menjadi penyebab dia tidak berkata jujur, lalu ayah dimintai pertanggung jawabannya nanti didepan Allaah Ta’ala. Aku tidak mau, karena ayah terlalu banyak berkorban. Aku menginginkan ayah, ibu, aku dan si bungsu berkumpul kembali di Surga.

“Orang-orang yang berkasih sayang pada waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS Az-Zukhruf: 67)

Ayah…

maafkan aku yang baru mengenalimu..

mengetahui beratnya bebanmu, pilunya masa kecilmu..

dan terimakasih, karena ayah mengajariku banyak hal termasuk yang tidak ayah sadari. Ayah mengajariku mengenal sosok-sosok orang tua, dan mengajariku bersabar, menyuruhku untuk selalu memberi alasan terlebih dahulu kepada orang lain kenapa dia berbuat demikian, ini pasti ayah tidak menyadarinya.

Ayah juga membawaku menikmati kehidupan yang lain dari teman-temanku. Aku menikmati kasih sayang dengan cara yang berbeda, dan bentuk yang berbeda. Kasih sayang bukan dengan dipenuhinya keinginan dan juga harta yang banyak tapi dalam bentuk penjagaan itu kasih sayang yang besar, ya ‘kan ayah?

Semoga Allaah selalu menjaga ayah, di sana. Menetapkan ayah diatas kebaikan. Menjaga ibu dan si bungsu. Memberi ayah rezeki yang halal. Memberikan kesehatan kepada ayah, supaya ayah tetap bisa menemani aku safar. Hehe..  Aamiin.

Dariku, anak perempuanmu yang telah beranjak dewasa.

Ghaaziyah.

tumblr_mq8drtosvB1r9bipco1_500

Diperantauan, yang lumayan jauh dari rumah.

21 Januari 2015.

**

Kajian merupakan kajian ustadz Firanda hafidzohullah di Bandung, didengarkan melalui Radio Rodja. Senin kemarin, salah satu materinya tentang alasan kenapa anak tidak berkata jujur.

Ini merupakan nasihat untuk aku (seorang anak) yang perlu memberi udzur ketika orang tua tidak demikian dan demikian, berbeda dengan orang tua teman. Semoga tidak lupa dengan orang tua yang bagaimanapun keadaan mereka, tetaplah mereka yang dari dulu memberi kasih sayangnya walaupun dengan cara berbeda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s