(Materi Kajian Muslimah) Adab Muslimah Ketika Suami Meninggal Dunia

Ditulis oleh: Ustadzah Ummu Nabiilah Siwi Nur Danayanti

disampaikan dalam kajian muslimah: Ketika Suami Meninggal Dunia

Istri manapun tentu akan merasakan duka yang sangat mendalam ketika kekasih hati –suaminya tercinta- meninggal dunia. Namun, musibah yang terjadi di dunia ini jangan sampai menjadi musibah di akhirat karena seorang muslimah salah bersikap saat dirundung duka. Hendaknya sebelum musibah terjadi, seorang muslimah mengetahui bagaimanakah harus bersikap saat musibah meninggalnya suami terjadi padanya. Berikut beberapa adab muslimah saat suami meninggal dunia:

  1. Bersabar

Setelah sekian lama bersama mengayuh biduk rumah tangga dalam suka dan duka, akhirnya Allah memisahkan sepasang suami istri lewat kematian. Sedih tentu akan dirasa. Namun, hendaknya seorang muslimah bersabar dengan musibah tersebut.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadami dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 155)

Sesungguhnya kesabaran dalam menghadapi musibah adalah salah satu bentuk kebaikan seorang muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sungguh mengherankan perkara seorang mukmin itu. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapat sesuatu yang menggembirakan, dia bersyukur maka itu kebaikan baginya. Jika ia ditimpa keburukan, dia bersabar maka itu kebaikan baginya.”(HR. Muslim)

Hendaknya wanita yang suaminya meninggal tidak mengumbar kesedihannya dengan menangis sejadi-jadinya karena hal ini termasuk bentuk ketidaksabarannya menghadapi musibah tersebut. Bahkan bisa jadi hal itu dicatat sebagai dosa baginya dan siksaan bagi si mayit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Dua perkara yang terdapat pada manusia dan hal itu merupakan bentuk kekufuran adalah mencela nasab dan meratapi mayit.”(HR. Muslim)

Wanita yang meratapi mayit (niyahah) jika tidak bertaubat maka dipakaikan celana dari timah cair dan baju dari kudis pada hari kiamat.”(HR. Muslim)

Tidak termasuk golongan kami wanita menampar pipi, merobek-robek pakaian dan berseru dengan kata-kata jahiliyah.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya mayit akan diadzab di kuburnya karena ratapan yang ditujukan baginya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Bersedih dan menangis atas kematian seseorang apalagi dia adalah suaminya, adalah suatu hal yang manusiawi. Namun, seorang muslimah hendaknya menahan tangisannya agar tidak terjatuh dalam dosa niyahah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah menangis karena kematian puteranya, Ibrahim dan sahabatnya, Sa’ad bin ‘Ubadah radhiallahu ‘anhu sakit keras. Akan tetapi tangisannya tidak dalam bentuk meratap atau meraung-raung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa dikarenakan air mata yang menetes dan kesedihan hati, akan tetapi Dia akan menyiksa atau merahmati ini,” sambil menunjuk ke arah lidahnya.(HR. Bukhari dan Muslim)

Hendaknya seorang wanita yang sedang ditimpa musibah bersabar dan mengucapkan kalimat istirja’ dan doa. Allah berfirman:

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.”(QS. Al-Baqarah: 156)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajarkan doa kepada Ummu Salamah radhiallahu ‘anha yang ditinggal wafat suaminya,

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْراً مِنْهَا

Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang menimpaku dan gantikanlah dengan yang lebih baik.”(HR. Muslim)

  1. ‘Iddah

‘Iddah adalah masa tunggu seorang wanita karena perceraian atau kematian suami. Seorang istri yang ditinggal wafat suaminya tidak lepas dari dua keadaan: hamil atau tidak hamil. Apabila wanita itu hamil maka ‘Iddah-nya adalah saat melahirkan seluruh kandungannya. Allah berfirman,

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.”(QS. Ath-Thalaq: 4)

Dan berdasar hadits Miswar bin Makhramah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Subai’ah Al-Aslamiyah radhiallahu ‘anha melahirkan setelah suaminya meninggal beberapa hari. Ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa (apakah diperbolehkan menikah). Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengijinkannya menikah.(HR. Bukhari dan Muslim)

Adapun wanita yang tidak hamil maka masa ‘Iddah-nya adalah empat bulan sepuluh hari baik wanita itu sudah dikumpuli atau belum dikumpuli, baik itu wanita muda atau sudah tua. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا ۖ فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”(QS. Al-Baqarah: 234)

Selama masa ‘Iddah-nya ini seorang wanita hendaknya memperhatikan beberapa hal di bawah ini:

  1. Wanita tersebut wajib tinggal di rumah dimana suaminya meninggal dunia, tidak berpindah tempat kecuali karena ada alasan syar’i. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Furai’ah binti Malik radhiallahu ‘anha (yang artinya), “Tinggallah di rumahmu hingga masa ‘iddahmu selesai.”(HR. Tirmidzi, shahih)
  2. Senantiasa berada di dalam rumah dan tidak keluar rumah kecuali ada kebutuhan mendesak.
  3. Wajib berkabung (ihdad) selama batas waktu yang telah ditentukan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak boleh berkabung lebih dari tiga hari kecuali karena kematian suami yaitu selama empat bulan sepuluh hari.”(HR. Muslim)
  4. Tidak mendapatkan nafkah namun memiliki hak waris.
  5. Tidak bercelak, mengenakan perhiasan, berpakaian yang indah atau wewangian berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyah radhiallahu ‘anha (yang artinya), “Kami dilarang berkabung atas kematian seseorang lebih dari tiga hari kecuali karena kematian suaminya yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Dan hendaknya dia tidak bercelak, memakai wewangian, dan memakai pakaian yang dicelup warna kecuali memakai ‘ashb (kain segiempat panjang dari benang yang dicelup lalu dipintal dan ditenun).”(Muttafaq ‘alaihi)

Dan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha secara marfu’, “Seorang wanita yang ditinggal mati suaminya dilarang memakai pakaian yang dicelup dengan ‘ushfur (pewarna merah), pakaian merah, mengenakan perhiasan, mewarnai kuku, dan celak.”(HR. Bukhari)

  1. Menunaikan kewajiban yang berkaitan dengan harta

Jika suami meninggal dunia maka ada empat hal yang berkaitan dengan harta yang ditinggalkannya:

  1. Perkara yang paling didahulukan adalah biaya pengurusan jenazahnya
  2. Kemudian hutang yang harus dikeluarkan dari hartanya
  3. Jika suami berwasiat, maka harus dikeluarkan paling banyak sepertiga dari hartanya untuk selain ahli waris.
  4. Lalu sisanya dibagikan kepada ahli waris. Dalam hal ini istri, baik itu satu atau lebih, mendapat seperempat bagian jika suami tidak memiliki anak atau seperdelapan jika suami memiliki anak. Allah berfirman,

وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ

Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.”(QS. An-Nisa: 12)

Penutup

Yang penting untuk diingat bahwasanya syariat Islam datang untuk mewujudkan maslahat atau menyempurnakannya serta mencegah mafsadah atau meminimalisirnya. Oleh karena itu, hendaknya kita berusaha untuk mengamalkan aturan-aturan agama. Allah berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah.”(QS. At-Taghabun: 16)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.
(QS. Al-Ahzab: 36)

Wallahu Muwaffiq

Referensi:

Al-Fiqh Al-Muyassar fii Dhou’il Kitaab was Sunnah, Nukhbah minal ‘Ulama’, Dar A’laamus Sunnah, Riyadh.

Fiqh Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul ‘Aqidah, Kairo.

Pedoman Praktis Fiqih Setiap Muslim (Terj. Manhajus Saalikin wa Taudhiihul Fiqhi fid Diin), Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Dar El-Hujjah, Jakarta.

Syarh Al-Kabaa-ir, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s