Umumnya.. tapi..

(Curhat)

18423788_463106944026244_744820658229511673_n

Sebagaimana harapan orang tua pada umumnya, harapan bapak ibu pun sama -melihat anaknya sukses dengan setidaknya pernah mencicipi pekerjaan (merasakan bekerja).
Sebagaimana perasaan anak-anak pada umumnya, perasaanku sebagai seorang anak dari bapak ibu pun sama -ingin melihat mereka bahagia kalau bisa mewujudkan keinginan mereka.

Tapi –bukanlah apa dayaku sebagai anak– beberapa pertimbangan sudah dilakukan, Begitulah kiranya sebelum memberi keputusan.
(Boleh ngga kalau bilang seandainya? Ya, sayangnya tidak boleh menggunakan kata andai)
Andai bapak ibu mengijinkan untuk meneruskan belajar di tempat yang apabila telah selesai masa belajar tidak akan memperoleh gelar, maka itulah keinginan terbesar.
Andai bapak ibu mengijinkan untuk bekerja dimana di sana diijinkan begini begitu, maka itulah harapan.

Tapi (lagi-lagi tapi), pertimbangan lain.
Walau wajah tidaklah ayu,
tubuh tidaklah ‘bagus’,
diri tidaklah pandai,
tapi bunga tetaplah bunga. Akan tetap mengundang ia yang tabiatnya tergoda.

Sebagaimana kekhawatiran orang tua pada anaknya, bapak ibu pun khawatir akan kebahagiaan anaknya. Kecukupannya. Selalu ingin memastikan anaknya tidak susah. Begitulah, bapak ibu.
Tapi kok anaknya yang belum makan asam garam kehidupan ini sok tau. Bilang ke bapak ibu, “kalau memang nanti hidupnya susah.. berarti itu udah rezekinya. Dari kecil udah diberi rezeki berlebih, terus diujinya pas udah besar. Kalau ngga diuji sama harta, mungkin nanti diuji sama anak, tetangga dan lain-lain Bu.”
Jawaban sok tau.

Sebenarnya ingin menenangkan bapak ibu kalau setiap orang ujiannya berbeda. Rezekinya pun berbeda. Jadi kalau anaknya ini diuji dalam masalah A maka dalam masalah B itulah rezekinya. Sedangkan orang lain dia rezekinya dalam masalah A dan ujiannya dalam masalah B.

Terus, lagi-lagi bapak ibu merayu. “Melamar kerja biar ilmu bisa diamalkan,” katanya.
Jawabannya? Lagi-lagi kaku. Susah rasanya menjawab. Ingin rasanya bilang, “Insya Allah kalau ada lowongan yang pas nanti bakal melamar. Lowongan yang boleh berpakaian seperti ini. Kerjaannya baik dan halal.”
Karena memang sulit sekali pak Bu bertahan di tengah-tengah lingkungan. Tarik ulur. Kalau ngga kuat, hadiah terbesar yang didapat dari dulu bisa hilang, hidayah.
Tapi jujur, sama seperti teman yang lain, aku pun terkadang khawatir akan rezeki. Takut ngga bisa makan. Takut ngga bisa membayar biaya hidup yang semakin mahal.

Ah tapi kan Allah sudah menjamin rezeki setiap anak Adam. Bahkan binatang melata sekalipun. Rezeki tidak akan lari sebagaimana kematian yang tidak akan lari.
kewajiban kamu (read: aku) ialah berusaha. Tapi.. jangan nakal. Jangan durhaka sama Allah. Ambil rezeki dengan cara yang baik dan halal.
Halal bukan cuma: itu bukan perniagaan babi, khamr, judi, anjing, dll.. tapi riba, gharar pun masuk.

Lagi-lagi itu yang bikin tenang.

Insya Allah ilmu tidak diamalkan cuma dengan bekerja. Tapi dengan amalan sehari-hari. Berniaga dengan cara halal. Bermuamalah (mencari rezeki) dengan cara halal. Cari kerja pun harus dilakukan dengan cara halal.

Ada keinginan terbesar yang terus dipelajari biar bisa terwujud, insya Allah .
Karena belum punya hafalan,
ilmu agama belum seujung kuku,
ilmu dunia udah menguap.
Kalau menanggalkan apa yang dipakai,
kalau mengabaikan ilmu yang masih menempel walau sedikit,
kok rasa-rasanya jadi orang yang sangat merugi.

Walau keinginan bertahan terus ditarik ulur.
Hari ini kagum sama sosok Aisyah yang pandai dan jadi penghuni surga. Gelarnya bukan cuma wanita karir biasa. Ia lalu diuji dengan dunia dan tetap memilih sebaik-baik pilihan, kebahagiaan di kehidupan nyata.

Eh esoknya, kekaguman itu tiba-tiba hilang. Dunia jadi mempesona. Kok pengen ya jadi terkenal, punya jabatan apalagi harta. Apapun mau dilakukan.

Terus tarik ulur tiap hari.
S E S A K.

Semoga yang menang adalah yang kekal.
Yang terbukti bahagia adalah yang sudah dijanjikan surga.
Boleh ya berharap bisa bertemu dengannya? ibunda kaum mukminin, Aisyah radhiallahu ‘anha.

Saat ini sebaik-baik ucapan adalah seperti yang sudah dicontohkan أن العيش عيش الا خرة

Semoga bapak ibu lapang menerima keputusan anaknya ini. Bertemu lagi di Surga ya Pak, Bu. Insya Allah.. Keletihan akan hilang dan lupa. Kesusahan akan terhapus.

18447293_1485917878149032_9015323971614267369_n

Masih di Jogja, 14-05-2017
©Nenden Siti Fauziyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s