Surga itu.. tidaklah mudah

jalan menuju ke Allah panjang, sedangkan kita berjalan di atasnya bagaikan kura-kura. dan bukan tujuan utama kita harus sampai di ujung jalan. akan tetapi tujuan utama kita adalah kita mati dalam keadaan kita masih berada di atas jalan Allah tersebut. (Syaikh Albani)
begitupun.. siapa yang menginginkan surga, berjalan supaya mendapatkannya pasti banyak ujian. melawan hawa nafsu, bagaimana caranya supaya tetap berusaha taat kepada Allah.. surga, lalu mendapat kenikmatan yang paling utama di sana yaitu? memandang wajah-Nya. اللهم إنا نسألك لذة النظر إلى وجهك الكريم

jauh sebelum menikah, beberapa tahun yang lalu.. saya mendengar dan baca kalau keutamaan perempuan yang sudah menikah dibanding yang belum menikah itu… apa coba? mendapat peluang emas untuk bebas masuk surga dari pintu mana saja. 

yup, muslimah yang shalat lima waktu, puasa ramadhan, menjaga kemaluan dan menaati suami. 

selain itu, tahun lalu sempat baca juga keutamaan lainnya yaitu menjadi pewaris surga firdaus. 

lalu.. apapun yang ia lakukan dalam rangka melayani suami, taat kepadanya dan suaminya ridho maka akan menjadi amalan sang istri dan insya Allah berbuah pahala.

apalagi kalau mempunyai anak yg Sholeh dan Sholehah maka akan menjadi amal jariyah ia kelak.
Dengan menikah.

menikah merupakan ibadah yang terus menerus. berjangka waktu sangat panjang. penuh dengan pahala insya Allah. akan terjauh dari maksiat.
satu hari setelah menikah, saya baru menyadari bahwa: Alhamdulillah sekarang -setidaknya- terlindungi dari perbuatan maksiat. lega rasanya.
tapi begitulah karena menikah adalah ibadah, maka jalannya ngga semulus yang dikira. apalagi menikah dengan yg sebelumnya tidak tau dia siapa. Blass, benar-benar ngga tau hehe.. 
ada kejutan2 soal sifat dan sikap yang kemungkinan besar bisa bertentangan. 

Saya mulai kaget ternyata tugas dan kewajiban seorang istri itu tidaklah mudah ckck.. tugas dan kewajibannya memang sekilas pasti dibilang: ah cuma begitu doang.

tapi di balik doang nya itu yg berat. berat karena harus menarik trs ego dan memunculkan terus sabar. 

benar kiranya ada yg bilang: selalu diingat saat mengerjakan tugas dan kewajiban sebagai istri sejatinya itu adalah ibadah kita kepada Allah. saat ada perlakuan suami yg tidak mengenakkan maka ingatlah kita sedang beribadah kepada Allah.
Terkadang ego sebagai perempuan muncul, lalu memicu marah dan kesal saat melakukan tugas dan kewajiban sebagai istri. tapi saat itu juga, kalau suami ngga ridho.. hati-hati dia sekarang surga dan neraka kita. hiks..

Saya berkali-kali menarik ulur macam-macam keinginan. terus ditarik ulur karena memikirkan satu hal: ujian pernikahan ngga semudah ujian pas sekolah ataupun kuliah. ujian apa? tadi. menarik ego dan memunculkan terus sabar. subhanallah.  
ujian pernikahan bukanlah soal nilai ataupun posisi dan tanggapan orang, tapi? soal surga atau neraka. 
maasyaa Allah.. lihatlah dalam pernikahan banyak sekali pahala namun ujian akan datang bagi siapa yang mencoba Istiqomah di jalanNya. 

mungkin… berusaha menjadi siswa yang ‘baik’. mahasiswa yang ‘baik’ maupun pekerja yang baik lumayan mudah.

tapi menjadi istri dan suami yang baik, itu sangat sangat susah. belajarnya ngga bisa SKS tapi tiap hari tanpa mengenal waktu. sama seperti menjadi anak yang baik.

teman, yang belum menikah.. dan statusnya masih sebagai anak, dll saja bukan sebagai istri atau suami.. membangun rumah tangga yang dipersiapkan bukan hanya materi apalagi yang tidak penting. tapi ilmu agama. perkuat ilmu tauhid. perkuat iman. 

ujiannya bukan cuma dari teman tapi dari setan. Setan kan berusaha supaya pasangan suami istri bercerai 

ayo terus belajar.. semangat.

btw Alhamdulillah sudah dua bulan. tapi perjalannya ngga cuma sampai di sini. Ngga cuma setahun dua tahun.. panjang. 
💪💪

Alhamdulillah, terus berjuang.

*note bagi yang baca maaf tulisannya ttg ini. ingin nulis dari lama.. cuma mikir2. hehe.. tarik ulur lagi.
Cirebon, 19 September 2017

Advertisements

Hadiah ♥♥

Bismillah.

Alhamdulillaahilladzii bini’matihi tatimmushshaalihaat..
Skripsi selesai dan akhir Mei sidang pun dilakukan. Kemudian setelah itu, pengumuman lulus sekaligus menyandang status baru ‘bukan mahasiswa’ membuat lega plus kaget hehe..

Dan…
sesuai yang telah kami (saya sekeluarga) rencanakan setelah selesai sidang (lulus kuliah), persiapan untuk acara keluarga kami pun dilakukan. Tepatnya 18 Juli 2017 alhamdulillaah acara tersebut berjalan dengan lancar.

Acara yang menurut saya sendiri sangatlah agung dan suci. Perpindahan tanggung jawab dari orang tua ke laki-laki asing yang kemudian disebut suami. Perjanjian yang sangat agung sehingga membuat ‘Arsy Allah bergetar, mitsaqon ghalizho.

Iya.
Alhamdulillaahillaadzii bini’matihi tatimmushshaalihaat, tanggal 18 Juli 2017 saya bersama laki-laki yang bernama Dwi Amri Wikusno telah melangsungkan akad dan walimatul ‘urs kami berdua. Setelah ijab qabul maka berubahlah status saya yang tadinya bukan mahasiswa single menjadi menikah.

pp 3

Setelah ijab qabul..
saya sudah menjadi istri dia
dan dia sudah menjadi suami saya.
ckck

Acara sakral ini sebenarnya yang membuat saya harus ‘lari’ pas ngerjain skripsi soalnya syarat dari bapak-ibu: boleh menikah asalkan udah lulus (walaupun belum wisuda hihi). Tapi H-sebulan malah saya bertanya-tanya: kok waktu berjalan cepat ya? Lama-lama menjadi H-seminggu, H-5 hari dan H-1. ckck..
Yang tadinya ngerjain skripsi aja malah jadi semangat kok pas menghitung hari perasaan jadi campur aduk. Takut, sedih, senang, dll.

Kami menjalani ta’aruf dari bulan Oktober tahun 2016 dilanjut nazhor lalu khitbah dan lama saat menunggu hari H karena harus menunggu saya lulus kuliah dulu :(.
Proses ta’aruf yang tidak kami saya kira bakal berlanjut sampai menikah. Kenapa? Karena saya dan beliau belum mengenal sama sekali.
Menjelang hari H yang membuat saya selalu was-was. Bagaimana tidak, kalau ketetapan Allah bisa saja terjadi. Maka dari itu, ntah kenapa kok saya malah merasa takut dan sedih yang dominan menjelang hari H bahkan beberapa jam sebelum akad nikah. hehe..

Tapi segala puji bagi Allah.. acara berlangsung dengan lancar dan sekarang kami LDM untuk sementara 😀

Mohon doanya untuk pernikahan kami berdua. Semoga menjadi pernikahan yang diberkahi Allah. Membangun rumah tangga sesuai tuntunan syariat dan melahirkan anak-anak yang sholih dan sholihah.
Jazaakumullaahu khairan. ♥♥

~N&A

Baik – Baru

Hello Juni! Alhamdulillah bertemu lagi bulan Ramadhan. Sibuk apa?

Sudah lama ngga nulis ya. Lama sekali. Lama ngga nulis sejalan dengan lama ngga baca buku. Lama ngga ngobrol-ngobrol banyak :’D
Alhamdulillaahilladzi bini’matihi tatimmushshaalihaat.. setelah beberapa kali nulis kegalauan soal tugas besarnya mahasiswa semester akhir, siang ini dikasih tau sama teman soal kabar ‘baik’.

posting 2

Sudah bukan mahasiswa lagi
tanggung jawab baru
kewajiban baru
dan sudah harus lain-lainnya.. salah satunya (mungkin) ngga di Jogja lagi 😦
Antara sedih bahagia dan haru~~

8/06/2017
©Nenden

 

Diungguli Masalah Dunia, Ajak Mereka Berlomba-Lomba Dengan Akhirat

berlomba dalam urusan akhirat

Terkadang hati dan iman kita sedang lemah, kita bisa jadi timbul rasa iri, mereka bisa segera meraih kenikmatan dunia, sedangkan kita terkadang sibuk dengan menuntut ilmu dan dakwah sehingga dunia tidak banyak kita dapat. Maka kita ajaklah mereka berlomba-lomba dengan akhirat misalnya:

-ketika mendengar teman sudah bisa punya rumah dengan membayar KPR maka kita katakan, kita juga sedang membangun rumah disurga dengan memakmurkan masjid dan amalan lainnya.

-ketika mendengar anak tetangga lancar les bahasa inggris, maka kita katakan, anak kita sudah lancar bahasa Arab.

-ketika mendengar teman sudah kulias S2 atau S3 di Amerika dan Eropa maka kita katakan, saya sudah menghapal sekian juz Al-Quran dan berpuluh-puluh hadits.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”

Wahib bin Al Warid mengatakan,

إن استطعت أن لا يسبقك إلى الله أحد فافعل

Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridha Allah, lakukanlah.

Continue reading

Umumnya.. tapi..

(Curhat)

18423788_463106944026244_744820658229511673_n

Sebagaimana harapan orang tua pada umumnya, harapan bapak ibu pun sama -melihat anaknya sukses dengan setidaknya pernah mencicipi pekerjaan (merasakan bekerja).
Sebagaimana perasaan anak-anak pada umumnya, perasaanku sebagai seorang anak dari bapak ibu pun sama -ingin melihat mereka bahagia kalau bisa mewujudkan keinginan mereka.

Tapi –bukanlah apa dayaku sebagai anak– beberapa pertimbangan sudah dilakukan, Begitulah kiranya sebelum memberi keputusan.
(Boleh ngga kalau bilang seandainya? Ya, sayangnya tidak boleh menggunakan kata andai)
Andai bapak ibu mengijinkan untuk meneruskan belajar di tempat yang apabila telah selesai masa belajar tidak akan memperoleh gelar, maka itulah keinginan terbesar.
Andai bapak ibu mengijinkan untuk bekerja dimana di sana diijinkan begini begitu, maka itulah harapan.

Tapi (lagi-lagi tapi), pertimbangan lain.
Walau wajah tidaklah ayu,
tubuh tidaklah ‘bagus’,
diri tidaklah pandai,
tapi bunga tetaplah bunga. Akan tetap mengundang ia yang tabiatnya tergoda.

Continue reading

(Materi Kajian Muslimah) Adab Muslimah Ketika Suami Meninggal Dunia

Ditulis oleh: Ustadzah Ummu Nabiilah Siwi Nur Danayanti

disampaikan dalam kajian muslimah: Ketika Suami Meninggal Dunia

Istri manapun tentu akan merasakan duka yang sangat mendalam ketika kekasih hati –suaminya tercinta- meninggal dunia. Namun, musibah yang terjadi di dunia ini jangan sampai menjadi musibah di akhirat karena seorang muslimah salah bersikap saat dirundung duka. Hendaknya sebelum musibah terjadi, seorang muslimah mengetahui bagaimanakah harus bersikap saat musibah meninggalnya suami terjadi padanya. Berikut beberapa adab muslimah saat suami meninggal dunia:

  1. Bersabar

Setelah sekian lama bersama mengayuh biduk rumah tangga dalam suka dan duka, akhirnya Allah memisahkan sepasang suami istri lewat kematian. Sedih tentu akan dirasa. Namun, hendaknya seorang muslimah bersabar dengan musibah tersebut.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadami dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 155)

Sesungguhnya kesabaran dalam menghadapi musibah adalah salah satu bentuk kebaikan seorang muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sungguh mengherankan perkara seorang mukmin itu. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapat sesuatu yang menggembirakan, dia bersyukur maka itu kebaikan baginya. Jika ia ditimpa keburukan, dia bersabar maka itu kebaikan baginya.”(HR. Muslim)

Hendaknya wanita yang suaminya meninggal tidak mengumbar kesedihannya dengan menangis sejadi-jadinya karena hal ini termasuk bentuk ketidaksabarannya menghadapi musibah tersebut. Bahkan bisa jadi hal itu dicatat sebagai dosa baginya dan siksaan bagi si mayit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Dua perkara yang terdapat pada manusia dan hal itu merupakan bentuk kekufuran adalah mencela nasab dan meratapi mayit.”(HR. Muslim)

Continue reading

Memandang Pekerjaan

Ada hal yang menggelitik saya dari percakapan kemarin bersama teman. Rasa-rasanya ingin ditulis tapi… kok bingung mulai dari mana. Coba ya.

“Kalau kita kan masih mending ya, kerja bisa dimana aja.” kata teman.
“Iya.”
“Mba Z juga dia kerja di bank M****** bagian dalam lho.”
“Wah, M****** bagian dalam? Hebat ya.”
“Iya, tapi ngga tau bagian apanya. Pokoknya bagian dalam.”

Bekerja di suatu bank apalagi buat freshgraduate lulusan dari sebuah jurusan yang memang pas kuliah pun bayangannya seolah selalu “kerja di bank”, rasa-rasanya sebuah hadiah besar. Apalagi bagian dalam bukan cuma sekedar menjadi seorang CS atau teller, dia langsung dapat nilai plus. Di benak saya sendiri bagian dalam itu selalu “akunting” :D, posisi yang sulit diduduki seorang freshgradute katanya. Maka, dengan bekerja di bank dan nilai plusnya mendapat posisi di bagian dalam merupakan hal yang refleks untuk ditanggapi dengan kata “Wah atau Wow”, hebat!

Saat itu, ntah kenapa pikiran saya sulit menanggapi dengan teliti sehingga keluar kata “Wah” padahal coba kembali diingat kata-kata teman sebelumnya apa? Kerja di bank M******. Iya, salah satu bank konvensional wk.
Kenapa harus keluar kata “Wah”? Mungkin tepatnya tanggapannya bisa diawali dengan kata “Kok”. Misal: Kok di bank itu?; Kok bisa?. Setidaknya dengan diawali kata ‘Kok’ ada maksud tertentu. Kok bisa bekerja di bank konvensional padahal selama kuliah dicekoki dengan hal yang namanya riba, memboomingkan syariah, akad-akad syariah, fiqh muamalah, dll.
Continue reading