Memandang Pekerjaan

Ada hal yang menggelitik saya dari percakapan kemarin bersama teman. Rasa-rasanya ingin ditulis tapi… kok bingung mulai dari mana. Coba ya.

“Kalau kita kan masih mending ya, kerja bisa dimana aja.” kata teman.
“Iya.”
“Mba Z juga dia kerja di bank M****** bagian dalam lho.”
“Wah, M****** bagian dalam? Hebat ya.”
“Iya, tapi ngga tau bagian apanya. Pokoknya bagian dalam.”

Bekerja di suatu bank apalagi buat freshgraduate lulusan dari sebuah jurusan yang memang pas kuliah pun bayangannya seolah selalu “kerja di bank”, rasa-rasanya sebuah hadiah besar. Apalagi bagian dalam bukan cuma sekedar menjadi seorang CS atau teller, dia langsung dapat nilai plus. Di benak saya sendiri bagian dalam itu selalu “akunting” :D, posisi yang sulit diduduki seorang freshgradute katanya. Maka, dengan bekerja di bank dan nilai plusnya mendapat posisi di bagian dalam merupakan hal yang refleks untuk ditanggapi dengan kata “Wah atau Wow”, hebat!

Saat itu, ntah kenapa pikiran saya sulit menanggapi dengan teliti sehingga keluar kata “Wah” padahal coba kembali diingat kata-kata teman sebelumnya apa? Kerja di bank M******. Iya, salah satu bank konvensional wk.
Kenapa harus keluar kata “Wah”? Mungkin tepatnya tanggapannya bisa diawali dengan kata “Kok”. Misal: Kok di bank itu?; Kok bisa?. Setidaknya dengan diawali kata ‘Kok’ ada maksud tertentu. Kok bisa bekerja di bank konvensional padahal selama kuliah dicekoki dengan hal yang namanya riba, memboomingkan syariah, akad-akad syariah, fiqh muamalah, dll.
Continue reading

Advertisements

Ternyata beda, “Single dan Menikah”

Saat dilihat kembali,
hasratku untuk membangun dunia baru, beberapa tahun ke depan ternyata terlalu tinggi. Tak bisa diukur. Lupa, sampai saat ini langkahku sudah berapa jauh?

Saat banyak mata-mata yang terpejam, beristirahat dari melihat orang-orang yang sibuk berjalan ke sana-sini. Kami, masih harus menatap layar putih berisikan kalimat-kalimat, materi yang beberapa pertemuan terakhir harus membuat kami -khususnya aku- berkali-kali mengingatkan diri sendiri tentang tujuan dan rencana hidup yang telah dibuat. Yups, materinya tentang perencanaan keuangan.

Continue reading

Bahan Resume #2 (Aggregate Demand and Aggregate Supply)

 

AS

AggregateSupply1 (long run)

 

new

LongRun Growth and Inflation

 

AS 3

AggregateSupply2 (short run)

 

AS 4

EquilibriumCurve (long run)

 

ASnew

A Contraction in AggregateDemand

 

ASnew2

An Adverse Shift in AggregateDemand

 

ASnew3

Accomodating an Adverse Shift in AggregateSupply

———————————————————————————–

ImageSource : Chapter 31 Gregory Mankiw, and etc

Yogyakarta, 18 Sha’ban 1435H ~penuh deadline resume dan kuis.. Alhamdulillaah ala kulli haal~

Bahan Resume

Gambar

#AgregatDemand1

Gambar

#AgregatDemand2

Gambar

#KurvaAS-AD(AgregatSupply-AgregatDemand)

Gambar

#EquilibriumCurve1

Gambar

#EquilibriumCurve2

————————————————-

ImageSource : Google Image with key word → ‘kurve permintaan agregat‘ and ‘kurva keseimbangan agregat

———————————

Yogyakarta, 17 Sya’ban 1435H

ditengah kesibukan deadline resume dan kuis

Indonesia Kalah Bersaing, Salah Siapa?

Pertumbuhan ekonomi suatu negara banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, dan lain-lain. Dalam pertumbuhan ekonomi di berbagai negara pada zaman sekarang ini, banyak negara-negara yang memiliki sumber daya alam yang sangat sedikit tapi bisa lebih maju dari pada negara yang memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Mengapa hal ini terjadi? Apa yang sebenarnya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara? 

Continue reading