BERUBAH

Hari ini sahabat dekat mulai masuk SMP.
Hari pertama mengikuti pengenalan sekolah.

Sahabat dekat.
Anak laki-laki yang pintar, baik, penyayang, perhatian dan semoga nanti menjadi anak yang shaleh juga. Aamiin.

Kadang cuek tapi kalau udah lama tinggal jadi dekat banget.
Teman ngobrol iya.
Teman main iya.
Pasangan berantem iya.
Adik so pasti.
Kakak? Bisa jadi.

Anak laki-laki yang akhir-akhir ini mengubah rencana hidupku, selain karena bapak dan ibu.

Saat melihat dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang mulai remaja, ada hal yang mulai aku perhatikan dan merasa, “Aku bertanggung jawab terhadap masa depanmu, de.”
Ditinggal olehku pas aku masuk SMA.
Iya waktu SMA.
Saat dimana aku mengerti pentingnya peran orang tua, baik ibu maupun bapak dalam jasmani maupun batin (psikis) seorang anak.
Saat dimana aku mulai mendalami buku-buku psikologi.
Saat itu tekadku:

Jangan sampai dia sepertiku.
Dia laki-laki, saat berontak maka akan lebih nyata dibanding anak perempuan.
Dia adalah tanggung jawabku.

Mulai saat itu, yang di lihat bukan hanya sosok bapak dan ibu yang kian hari mulai beruban dan terdapat kerut di wajah. Tapi anak laki-laki itu juga. Maka alasan apalagi yang membuat diri masih santai-santai?

Apabila melihat mereka, sambutan hangat saat pulang ke rumah, rengekan dia kala mau ke Jogja dan yang paling utama ada cita-cita yang harus diwujudkan, ada senyum yang harus menyimpul membuat diri rasanya, Apalagi yang harus diutamakan selain mereka?

Aku dan dia adalah ujian.
Ujian kesabaran dan tanggung jawab besar bagi bapak dan ibu.
Persaudaraan antara kami pun sekarang ujian.

Ada yang harus diredam,
sebagai seorang anak hal tersebut namanya ego.
sebagai seorang kakak juga hal tersebut namanya ego.

Ada yang harus terus dipelajari,
sebagai seorang anak, terus pelajari bagaimana berbakti kepada orang tua.
sebagai seorang kakak, terus pelajari bagaimana sabar, ikhlas dan cara mendidik anak.

Nanti,
bila sudah memiliki penghasilan..
ada harta yang harus dikeluarkan untuk bapak dan ibu
ada harta yang harus dikeluarkan untuk adik
maka perlu keikhlasan.

Apabila tidak bisa berjihad langsung ke medan perang,
tidak bisa berjihad dengan harta untuk kaum muslimin,
tidak bisa menyebarkan ilmu,
tidak bisa intens datang ke majelis ilmu,
semoga ladang jihad lain yaitu berbakti kepada bapak ibu dan jadi saudara yang baik menjadi ladang yang bisa dilakukan cocok tanam dan panen hasil yang banyak.

Bapak ibu adek, Yuk berusaha biar masuk Surga sekeluarga!

tauhid
*sumber gambar: Abdul Rokhman As-Syukur
 (gambar buku Indonesia Bertauhid)

Ungkapan hati,
untuk keluarga.

Jogja, 18 Juli 2016

Advertisements

Pulang

Bismillah.

Sudah tiga kali ibu ngode nyuruh pulang. Plus berkali-kali telepon cuma buat nanya, “Jadinya kapan pulang?” berakhir dengan jawabanku yang cuma bisa bilang, belum tau lalu teleponnya langsung ditutup. Dan hal tersebutlah yang membuat ngga sabaran pengen cepat pulang, tapi ngga tau ya.. kok semester-semester akhir malah banyak gangguan. Mesti nyelesaikan ini itu bahkan menunggu sesuatu yang penting dan lebih ke nggantung (?).

Buat yang semester awal kuliahnya pergunakan waktu buat keluarga dengan baik deh ya. Pergunakan waktu pas liburan dengan baik. Pulang ke rumah. Ketemu bapak-ibu, bantu-bantu walau mungkin banyaknya malah makan-tidur. Tapi toh kebersamaan dengan mereka berharga dan pasti langka kan? Pergunakan waktu libur buat main atau mempererat hubungan dengan kakak atau adik. Ah pasti kangen kalau udah sibuk terus ngga bisa pulang. Apalagi kalau Ramadhan gini. Sedih pasti kalau ngga bisa pulang bahkan walau bisa pulang tapi di rumah cuma bisa seminggu yang artinya seminggu berpuasa di tengah keluarga, tetep aja sedih.

Kalau ditanya apa yang paling diinginkan, semoga jawabannya: pengen jadi anak yang bisa maksimalin baktinya sama bapak-ibu. Jadi saudara yang baik juga buat kakak atau adik (buat yang punya). ❤

sukses-bakti

Continue reading

Dua orang spesial

PERKENALKAN

Ia adalah perempuan yang berhati lembut dan penuh kasih. Cintanya sangat tulus tanpa minta dibalas materi. Ia merupakan perempuan yang paling kuat dan pemberani. Bayangkan saja, hujan lebat dilengkapi petir bersahutan, ia tetap menerjangnya. Keluar rumah menjemput anaknya yang sedang di surau. Bagi siapapun -termasuk aku- keluar rumah dalam keadaan seperti itu membuat berpikir berkali-kali.

Ia adalah perempuan yang aku panggil IBU.

Continue reading

Tanda Kelembutan Kepada Orang Tua

Bismillaah.
Nasihat yang sangat mengena, “Jangan melibatkan ibu/ orang tua ke dalam masalah atau kepedihanmu.

TANDA KELEMBUTAN KEPADA ORANG TUA

“Di antara tanda kelembutan, kebaikan dan kasih sayang kepada kedua orang tua apalagi kepada ibu ketika sudah tua, jangan melibatkan mereka terlalu dalam kepedihanmu dan masalah-masalah yang menimpamu kecuali benar-benar terpaksa, karena keduanya akan sangat sedih, bahkan bisa jadi lebih sedih
dari apa yang engkau bayangkan.”

Semoga manfa’at

Twitter @IslamDiaries
Instagram DiariesImage

Sumber : Sulaiman ar Rajihi, حفظه الله تعالى
Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Semoga Allah menjaga ibu-bapak dengan sebaik-baik penjagaan.

~Ummu ‘Aisyah

Malam setelah hujan

11008564_905693949468640_820184868974955491_n

Malam setelah hujan.

Sudah tidak terdengar lagi suara gemercik air hujan. Tapi tanah-tanah dibuat basah. Terdapat genangan air juga. Udara semakin sejuk.

Salam rindu dari sini, malam setelah hujan, salam rindu untuk ibu.

Perempuan yang pengorbanannya tidak pernah bisa terbalas.
Perempuan yang hatinya luas untuk penerimaan.
Perempuan yang telah melewati fase klimaks, berganti status.
Perempuan yang mengajarkan arti penerimaan dan pengertian dengan sebenar-benarnya.
Perempuan yang telah memberikan kasih sayang dan cinta dengan tulus. Ya, tulus.

Oh ya,
perempuan yang mengabdikan dirinya kepada seorang laki-laki yang dulu asing baginya, ayah.
Terhitung sampai saat ini, beliau telah hidup bersama ayah selama 21 tahun. Belum lama memang dibandingkan bersama orang tuanya, kakek-nenek.
Perempuan yang telah membuang egonya dan membesarkan anak-anaknya, kami, dengan penuh kasih.

Ibu.

Tempat kembali pulang.
Tidak ada tempat pulang sebaik rumah. Ada diantara ibu dan ayah.

Malam setelah hujan.
Salam rindu untuk ibu,
perempuan yang sangat istimewa ❤ .

Sepotong Cerita Kehidupan

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya yang telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Dan kepada-Ku lah kembalimu.” (Luqman: 14)

Terlalu banyak cerita yang ditampilkan oleh TV, dikarang oleh penulis cerita fiksi, ataupun menjadi dongeng-dongeng pengantar tidur. Cerita tentang gambaran kehidupan.

Tapi, menurutku hidup tidak semudah yang tergambarkan dalam media-media itu. Juga berbagai ekspresi yang tergambarkan di dalamnya terkadang jauh berbeda dengan yang sebenarnya dirasa dalam kehidupan nyata. Ini hanya menurutku.

Langit yang kulihat hari ini, merupakan langit yang sama ketika aku melihatnya tiga tahun yang lalu. Dan tiga tahun yang lalu, kejadian-kejadian yang banyak memberikan pelajaran. Tamparan keras, menyadarkan diri, dan belajar mengenal cinta.

Continue reading

Untuk Ibu

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuhu.

Setelah kemarin aku menulis surat untuk ayah,

ntah kenapa bu, banyak sekali hal yang aku temui tentang ibu.

Jadi, malam ini aku ingin bercerita kepada ibu.

Ada hal yang aku sembunyikan dari ibu. Tapi aku malu mengakuinya bu. Boleh aku membisikannya saja?

“Ibu, aku rindu pulang. Aku rindu mencium tangan ibu. Bercengkrama dengan ibu, tidak melalui telepon. Memakan masakan ibu, menunggu ibu pulang mengajar juga berharap ibu membawa makanan ringan. Hehe.. Aku rindu dimarahi ibu karena malas-malasan.

10530771_493342730811161_2381027446067987872_n

Continue reading