Diungguli Masalah Dunia, Ajak Mereka Berlomba-Lomba Dengan Akhirat

berlomba dalam urusan akhirat

Terkadang hati dan iman kita sedang lemah, kita bisa jadi timbul rasa iri, mereka bisa segera meraih kenikmatan dunia, sedangkan kita terkadang sibuk dengan menuntut ilmu dan dakwah sehingga dunia tidak banyak kita dapat. Maka kita ajaklah mereka berlomba-lomba dengan akhirat misalnya:

-ketika mendengar teman sudah bisa punya rumah dengan membayar KPR maka kita katakan, kita juga sedang membangun rumah disurga dengan memakmurkan masjid dan amalan lainnya.

-ketika mendengar anak tetangga lancar les bahasa inggris, maka kita katakan, anak kita sudah lancar bahasa Arab.

-ketika mendengar teman sudah kulias S2 atau S3 di Amerika dan Eropa maka kita katakan, saya sudah menghapal sekian juz Al-Quran dan berpuluh-puluh hadits.

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة

Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.”

Wahib bin Al Warid mengatakan,

إن استطعت أن لا يسبقك إلى الله أحد فافعل

Jika kamu mampu untuk mengungguli seseorang dalam perlombaan menggapai ridha Allah, lakukanlah.

Continue reading

Umumnya.. tapi..

(Curhat)

18423788_463106944026244_744820658229511673_n

Sebagaimana harapan orang tua pada umumnya, harapan bapak ibu pun sama -melihat anaknya sukses dengan setidaknya pernah mencicipi pekerjaan (merasakan bekerja).
Sebagaimana perasaan anak-anak pada umumnya, perasaanku sebagai seorang anak dari bapak ibu pun sama -ingin melihat mereka bahagia kalau bisa mewujudkan keinginan mereka.

Tapi –bukanlah apa dayaku sebagai anak– beberapa pertimbangan sudah dilakukan, Begitulah kiranya sebelum memberi keputusan.
(Boleh ngga kalau bilang seandainya? Ya, sayangnya tidak boleh menggunakan kata andai)
Andai bapak ibu mengijinkan untuk meneruskan belajar di tempat yang apabila telah selesai masa belajar tidak akan memperoleh gelar, maka itulah keinginan terbesar.
Andai bapak ibu mengijinkan untuk bekerja dimana di sana diijinkan begini begitu, maka itulah harapan.

Tapi (lagi-lagi tapi), pertimbangan lain.
Walau wajah tidaklah ayu,
tubuh tidaklah ‘bagus’,
diri tidaklah pandai,
tapi bunga tetaplah bunga. Akan tetap mengundang ia yang tabiatnya tergoda.

Continue reading

(Materi Kajian Muslimah) Adab Muslimah Ketika Suami Meninggal Dunia

Ditulis oleh: Ustadzah Ummu Nabiilah Siwi Nur Danayanti

disampaikan dalam kajian muslimah: Ketika Suami Meninggal Dunia

Istri manapun tentu akan merasakan duka yang sangat mendalam ketika kekasih hati –suaminya tercinta- meninggal dunia. Namun, musibah yang terjadi di dunia ini jangan sampai menjadi musibah di akhirat karena seorang muslimah salah bersikap saat dirundung duka. Hendaknya sebelum musibah terjadi, seorang muslimah mengetahui bagaimanakah harus bersikap saat musibah meninggalnya suami terjadi padanya. Berikut beberapa adab muslimah saat suami meninggal dunia:

  1. Bersabar

Setelah sekian lama bersama mengayuh biduk rumah tangga dalam suka dan duka, akhirnya Allah memisahkan sepasang suami istri lewat kematian. Sedih tentu akan dirasa. Namun, hendaknya seorang muslimah bersabar dengan musibah tersebut.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadami dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 155)

Sesungguhnya kesabaran dalam menghadapi musibah adalah salah satu bentuk kebaikan seorang muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sungguh mengherankan perkara seorang mukmin itu. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapat sesuatu yang menggembirakan, dia bersyukur maka itu kebaikan baginya. Jika ia ditimpa keburukan, dia bersabar maka itu kebaikan baginya.”(HR. Muslim)

Hendaknya wanita yang suaminya meninggal tidak mengumbar kesedihannya dengan menangis sejadi-jadinya karena hal ini termasuk bentuk ketidaksabarannya menghadapi musibah tersebut. Bahkan bisa jadi hal itu dicatat sebagai dosa baginya dan siksaan bagi si mayit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

Dua perkara yang terdapat pada manusia dan hal itu merupakan bentuk kekufuran adalah mencela nasab dan meratapi mayit.”(HR. Muslim)

Continue reading

Memandang Pekerjaan

Ada hal yang menggelitik saya dari percakapan kemarin bersama teman. Rasa-rasanya ingin ditulis tapi… kok bingung mulai dari mana. Coba ya.

“Kalau kita kan masih mending ya, kerja bisa dimana aja.” kata teman.
“Iya.”
“Mba Z juga dia kerja di bank M****** bagian dalam lho.”
“Wah, M****** bagian dalam? Hebat ya.”
“Iya, tapi ngga tau bagian apanya. Pokoknya bagian dalam.”

Bekerja di suatu bank apalagi buat freshgraduate lulusan dari sebuah jurusan yang memang pas kuliah pun bayangannya seolah selalu “kerja di bank”, rasa-rasanya sebuah hadiah besar. Apalagi bagian dalam bukan cuma sekedar menjadi seorang CS atau teller, dia langsung dapat nilai plus. Di benak saya sendiri bagian dalam itu selalu “akunting” :D, posisi yang sulit diduduki seorang freshgradute katanya. Maka, dengan bekerja di bank dan nilai plusnya mendapat posisi di bagian dalam merupakan hal yang refleks untuk ditanggapi dengan kata “Wah atau Wow”, hebat!

Saat itu, ntah kenapa pikiran saya sulit menanggapi dengan teliti sehingga keluar kata “Wah” padahal coba kembali diingat kata-kata teman sebelumnya apa? Kerja di bank M******. Iya, salah satu bank konvensional wk.
Kenapa harus keluar kata “Wah”? Mungkin tepatnya tanggapannya bisa diawali dengan kata “Kok”. Misal: Kok di bank itu?; Kok bisa?. Setidaknya dengan diawali kata ‘Kok’ ada maksud tertentu. Kok bisa bekerja di bank konvensional padahal selama kuliah dicekoki dengan hal yang namanya riba, memboomingkan syariah, akad-akad syariah, fiqh muamalah, dll.
Continue reading

Wanita Perindu Surga, Harusnya..

Muqaddimah (Part 2)

14695467_1205247592882730_685555846956717088_nSumber FB: Nature, Feelings, Emotion

Seorang wanita yang mengharapkan Surga hendaknya banyak menunaikan puasa, mengerjakan shalat, seorang ahli ibadah, taat, beriman, selalu bertaubat, bersyukur, dan bersabar. Dia selalu taat kepada Rabbnya, suaminya, melaksanakan kewajiban, mendidik putra-putrinya, memberi petunjuk kepada saudara-saudaranya, menasihati teman-temannya, dan menjaga hak tetangganya. Selain itu juga berbakti kepada kedua orang tuanya, selalu mengintrospeksi dirinya, hatinya selalu terikat dengan Allah, dan ruhnya terbang bebas di Surga.

Seorang wanita yang mengharapkan Surga hendaknya menghidupkan waktu malamnya ketika orang-orang edang tidur terlelap, dan waktu siangnya ketika orang-orang sedang lalai. Dia merasa sedih ketika orang-orang bergembira, menangis ketika orang-orang sedang tertawa, berdiam diri ketika orang-orang sedang campur baur, dan khusyuk ketika orang-orang berlagak sombong.

Continue reading

Gambaran tentang Surga

Muqaddimah (Part 1)

Tak ada yang mengagumkan dari orang celaka dan bagaimana dia celaka. Adapun yang mengagumkan adalah orang yang selamat dan bagaimana dia selamat. Demi Rabb pemilik Ka’bah, Surga adalah cahaya yang berkilauan, keharuman yang semerbak, istana yang berdiri kokoh, pakaian dan keindahan, taman yang mulia, dan buah-buahan yang dekat.

Jika anda bertanya tentang tinggi anda kelak di Surga, maka tinggi anda adalah enam puluh meter di langit seperti tingginya bapak anda, Adam ‘alaihissalam. Jika anda bertanya tentang usia anda, maka usia anda adalah tiga puluh tiga tahun tiga bulan tiga hari, seperti usia Isa ‘alaihissalam ketika diangkat oleh Allah.

Jika anda bertanya tentang kesabaran anda, maka kesabaran anda seperti kesabaran Ayyub ‘alaihissalam. Jika anda bertanya tentang ketampanan anda, maka anda setampan Yusuf ‘alahissalam. Jika anda bertanya tentang akhlak anda, maka akhlak anda seperti akhlak Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Jika anda bertanya tentang keutamaan anda, maka anda lebih utama daripada bidadari Surga. Hal ini disebabkan, mereka tidak dibebani kewajiban untuk melaksanakan syariat, seperti ketaatan, ibadah, muamalah, serta berbagai perintah dan larangan. Sedangkan anda, diwajibkan untuk taat kepada Rabb anda, taat kepada suami anda, mendidik anak anda, dan mengurus rumah anda.
Continue reading