Umumnya.. tapi..

(Curhat)

18423788_463106944026244_744820658229511673_n

Sebagaimana harapan orang tua pada umumnya, harapan bapak ibu pun sama -melihat anaknya sukses dengan setidaknya pernah mencicipi pekerjaan (merasakan bekerja).
Sebagaimana perasaan anak-anak pada umumnya, perasaanku sebagai seorang anak dari bapak ibu pun sama -ingin melihat mereka bahagia kalau bisa mewujudkan keinginan mereka.

Tapi –bukanlah apa dayaku sebagai anak– beberapa pertimbangan sudah dilakukan, Begitulah kiranya sebelum memberi keputusan.
(Boleh ngga kalau bilang seandainya? Ya, sayangnya tidak boleh menggunakan kata andai)
Andai bapak ibu mengijinkan untuk meneruskan belajar di tempat yang apabila telah selesai masa belajar tidak akan memperoleh gelar, maka itulah keinginan terbesar.
Andai bapak ibu mengijinkan untuk bekerja dimana di sana diijinkan begini begitu, maka itulah harapan.

Tapi (lagi-lagi tapi), pertimbangan lain.
Walau wajah tidaklah ayu,
tubuh tidaklah ‘bagus’,
diri tidaklah pandai,
tapi bunga tetaplah bunga. Akan tetap mengundang ia yang tabiatnya tergoda.

Continue reading

Advertisements

Bersemangatlah..

Tiga Cerita

  1. Dulu, di usia 25 tahun, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mulai mengajar. Di masa-masa muda itu, murid-muridnya sedikit. Bahkan sampai pernah beliau masuk ruang taklimnya yang terjadwal, tidak menemukan siapapun. Hanyalah satu kitab tergeletak yang sepertinya milik seorang murid. Beliau terduduk menunggu murid sembari muraja’ah. Datang kemudian murid pemilik kitab. Melihat ia hanya murid seorang, ia malu. Akhirnya ia mengambilnya dan berpaling keluar. Tinggallah sang guru sendiri. Hingga kelak suatu saat nama Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mendunia; dengan rahmat Allah, karena sabarnya dan istiqamahnya.
  2. Dulu, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin adalah pemuda biasa saja, penuntut ilmu yang mengawali penuntutan ilmunya dari satu kitab bernama “ar-Rawdh al-Murbi'”, sebuah kitab Fiqh madzhab Hanbali, syarh kitab “Zad al-Mustaqni'”. Kitab itu selalu beliau pegang kemana-mana. Beliau tidak punya lainnya. Hingga kelak suatu saat justru jutaan cetakan kitab tertulis di depannya nama beliau, sebagai mu’allifnya.
  3. Dulu, di masa masih menjadi mahasiswa muda, seseorang bernama Muhammad bin Abdurrahman al-Arify, terbiasa duduk sendiri di kosnya. Di balik tembok adalah bangunan lain, yang sering terdengar disko di baliknya. Ranjang beliau ada di sisi tembok. Biarpun terdengarnya hingar bingar orang sebelah, atau cecandaan teman-teman, ia mempelajari kaset-kaset ceramah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang merupakan kajian-kajian kitab, sambil memegang kitabnya. Dan seringkali beliau mempelajari kitab “ar-Rawdh al-Murbi'”.

Continue reading

Bangunlah dari Mimpimu Wahai Si Pemalas !

Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata :

Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras…

Barang siapa yang ingin meraih puncak maka dia akan begadang

 

Barang siapa yang mengharapkan ketinggian/kemuliaan tanpa rasa letih…

Maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil…

 

Engkau mengharapkan kejayaan lantas di malam hari hanya tidur aja??

Orang yang yang mencari mutiara harus menyelam di lautan…

 

Diantara kita ada yang berangan-angan dan berkata : “Saya ingin bisa menjadi dermawan seperti si fulan…”,

“Saya ingin bisa menghafalkan al-Qur’an seperti si fulan…”,

“Saya ingin berilmu seperti syaikh/ustadz fulan…”,

“Saya ingin berhasil seperti si fulan…”

 

Akan tetapi jika hanya berkata dan berangan-angan tanpa usaha maka anak kecil berusia 3 atau 4 tahun pun bisa…, kalau hanya mimpi siapapun bisa. Tapi yang tidak semuanya bisa adalah mewujudkan angan-angan dengan usaha maksimal serta semangat tinggi , tentunya setelah disertai doa kepadaNya dan taufiq dariNya…

(Sumber : Status Facebook ustadz Firanda Andirja hafidzohullaah)

Kota Kuda, 6 Syawal 1435H/ 03 Agustus 2014

Setelah turun hujan.. Alhamdulillaah ^^ ❤