Umumnya.. tapi..

(Curhat)

18423788_463106944026244_744820658229511673_n

Sebagaimana harapan orang tua pada umumnya, harapan bapak ibu pun sama -melihat anaknya sukses dengan setidaknya pernah mencicipi pekerjaan (merasakan bekerja).
Sebagaimana perasaan anak-anak pada umumnya, perasaanku sebagai seorang anak dari bapak ibu pun sama -ingin melihat mereka bahagia kalau bisa mewujudkan keinginan mereka.

Tapi –bukanlah apa dayaku sebagai anak– beberapa pertimbangan sudah dilakukan, Begitulah kiranya sebelum memberi keputusan.
(Boleh ngga kalau bilang seandainya? Ya, sayangnya tidak boleh menggunakan kata andai)
Andai bapak ibu mengijinkan untuk meneruskan belajar di tempat yang apabila telah selesai masa belajar tidak akan memperoleh gelar, maka itulah keinginan terbesar.
Andai bapak ibu mengijinkan untuk bekerja dimana di sana diijinkan begini begitu, maka itulah harapan.

Tapi (lagi-lagi tapi), pertimbangan lain.
Walau wajah tidaklah ayu,
tubuh tidaklah ‘bagus’,
diri tidaklah pandai,
tapi bunga tetaplah bunga. Akan tetap mengundang ia yang tabiatnya tergoda.

Continue reading

Cerita Hijrah (Perjalanan Singkat)

Setelah menulis Merah Jambu : Untukmu yang tulisan itu spesial banget buat seseorang yang udah nemenin 3 tahun hidup bareng ala anak-anak remaja. Sekarang mau bikin coretan sederhana tentang perjalanan mencari jati diri, kenyamanan, dan buat pengingat aja… “Oh ternyata dulu tuh aku pernah nulis gini.. Oh ternyata dulu tuh aku kayak gini ya…“.

Awal-awal mengenal agama, maksudnya ada semangat yang membara buat mengenal Islam itu pas masih duduk di bangku SMA kelas 1. Alhamdulillah ‘ala kulli haal.

Waktu itu semangatnya membahas tema-tema tentang wanita. Mulai dari jilbab, adab bergaul dengan lawan jenis, dan lain-lain. Kebetulan waktu itu banyak dapet nasihatnya dari si teteh. Dengan sabar beliau memberi nasihat, kemudian menjawab pertanyaan aku yang waktu itu emang lagi semangat-semangatnya kepengen tau. Jazaahallaahu khairan.

Continue reading

Tas’ir (Price Fixing)

Disela-sela pembuatan makalah tentang mekanisme pasar islam, tiba-tiba terbesit pikiran tentang “Bolehkah pemerintah melakukan pembatasan harga?” sedangkan ada hadits yang menjelaskan bahwa harga itu ditentukan oleh Allaah.

Dari sahabat Anas, ia menuturkan: Para sahabat mengeluh kepada Rasulullah, dan mereka berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya harga barang kebutuhan sekarang ini begitu mahal, alangkah baiknya bila anda membuat menentukan harga.” Menanggapai permintaan sahabatnya ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allaah-lah yang menentukan harga, mengencangkan, melapangkan dan memberi rizqi. Dan sesungguhnya aku berharap untuk menghadap kepada Allah tanpa ada seorangpun yang menuntutku karena suatu kedhaliman, baik dalam urusan darah (jiwa) ataupun harta.” (Riwayat Abu Dawud dan oleh Al Albani dinyatakan sebagai hadits shahih)

Hadits diatas juga sering banget disebut-sebut sama dosen. Oya, baru inget juga….kadang pembatasan harga menjadi sebab sebagian masyarakat tumpah ruah di jalan.

Alhamdulillaah..ketemu artikel yang membahasnya dengan detail dan top 🙂

Continue reading